Pages

Showing posts with label Family Lover. Show all posts
Showing posts with label Family Lover. Show all posts

Sunday, June 20, 2010

Next Time I Fall in Love..

Next time I fall in love, it will be with you..

Jika saatnya nanti kita bertemu,
Akan ku pandangi kamu, satu jam, dua jam, bahkan mungkin seharian.
Tak apalah menganggu jam makan siangku, melihatmu, kuyakin tenangkan hatiku.

Jika saatnya nanti aku memilikimu,
Akan ku sayangi kamu sepenuh hatiku,
Akan ku berikan kamu yang terbaik dari hidupku,
Bahagiamu tentulah menjadi bahagiaku.

Jika saatnya nanti aku melihatmu tumbuh,
Akan kuberikan kamu support dan kepercayaan,
Bilang padaku jika kamu kecewa,
Sampaikan padaku jika kamu tak suka,
Aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi.

Jika saatnya nanti kamu memilih hati yang lain untukmu berbagi hidupmu,
Jangan khawatir sayang, aku akan tetap mencintaimu,
Pintu rumah akan selalu terbuka untukmu, untuk sekedar berkeluh kesah atau bercerita apa saja.
Aku pasti tidak akan lupa meng-email mu setiap minggu, sekedar berkata hello, dan berharap bahagia selalu hidupmu..


Anakku sayang,

Jika nanti kamu ada dihidupku,
Percayalah, aku akan mencintaimu hingga akhir usiaku..

Saturday, January 2, 2010

Di Doa Ibuku Namaku Disebut


Di waktu ku kecil, gembira dan senang
Tiada duka kukenal, tak kunjung mengerang
Disore hari nan sepi....ibuku bertelut
Sujud berdoa ku dengar namaku disebut

Di doa ibuku, namaku disebut
Di doa ibuku kudengar, ada namaku disebut
Sering ini kukenang, di masa yang berat
Di kala hidup mendesak dan nyaris kutersesat
Melintas gambar ibuku, sewaktu bertelut
Kembali sayup kudengar, ....namaku disebut

Di sore hari nan sepi... ibuku bertelut
Sujud berdoa ku dengar namaku disebut
Di doa ibuku, namaku disebut
Di doa ibuku dengar ada namaku disebut....
Ada namaku di sebut
(Nikita - Di Doa Ibuku Namaku Disebut)

Tulisan berikut saya dedikasikan untuk mama saya;
A.A Ngurah Berathi Rimawa

Ma,
Terimakasih telah melahirkan kami ber-4,
Terimakasih telah memilih kami untuk merasakan kasih sayang yg sangat tulus dari mama,

Ma,
Terimakasih untuk semua pengorbanan yang saya yakin mama tidak pernah merasa berkorban,
Terimakasih untuk setiap usapan pundak, setiap pelukan sayang, dan setiap detik dalam hidup mama yg mama dedikasikan untuk kami semua.

Ma,
Terimakasih untuk selalu mengangkat telvon saya dengan semangat,
Terimakasih untuk semua nasehat-nasehat yg jauh dari kesan menggurui,
Terimakasih untuk resep-resep masakan yg makyuus (ternyata memasak itu tidak mudah ya, saya semakin meng-idolakan kepandaian memasak mama).

Ma,
Terimakasih untuk bertanya "Kapan pulang ke Bali?",
Dan meskipun saya akan menjawab "Entar ya ma, skarang lagi sibuk banget di kantor",
Terimakasih untuk membalas kalimat saya dengan "Ohh, gitu, ya udah, tapi jangan terlalu ngoyo bekerja"
Terimakasih untuk tak pernah lupa berkata "Jaga kesehatan yaaa"

Ma,
Terimakasih untuk selalu menanyakan kabar suami saya, menanyakan bagaimana study-nya, dan ikutan gelisah saat tau kalau suami saya sedang tidak enak badan.
Terimakasih untuk selalu mengingatkan yang terpenting dalam suatu pernikahan adalah kepercayaan, penerimaaan, dan kebersamaan dalam suka duka dan bukanlah jabatan, tittle, atau materi.

Ma,
Terimakasih untuk tidak pernah mempermasalahkan keputusan saya yg menunda mempunyai momongan,
Terimakasih untuk berkata "Iyaa, asalkan itu yang kalian pikir yang terbaik untuk kalian berdua".

Ma,

Terimakasih untuk selalu percaya kalau saya anak yang hebat.
Terimakasih untuk selalu bercerita dengan bangga tentang saya (yes, I promised you I am gonna make you proud mom)

Ma,
Terimakasih untuk semua cinta yg tidak akan mungkin pernah terbalaskan,
Terimakasih untuk semua support,

Ma,
Terimakasih untuk semua doa yg tak henti mama panjatkan untuk kami.

Terimakasih mama,
I love you, I adore you, I want to be like you.

Tuesday, February 17, 2009

Anak ku sayang :)


Akhir - akhir ini ada sekelumit (halah..) pikiran yg sering mampir di otak saya..
Mempunyai seorang anak!!!
Di usia yg hampir 25 tahun, rasanya wajar saya memikirkan itu.

Membayangkan langkah-langkah kecilnya berlari ke arah saya, membayangkan suami saya menggendongnya saat kami bertamasya ke Singapore Zoo, membuat saya tersenyum-senyum sendiri..
"Seperti apa ya dia nanti?"
Pertanyaan itu sering muncul bersamaan bayangan2 tadi.

Terus kenapa belum punya?????

Yup, sepertinya hampir sluruh umat manusia di sekitar kami menanyakan hal itu..
Di usia pernikahan kami yg menjelang 2 tahun, janggal rasanya kalau kami belum punya plan untuk memilikinya seorang atau 2 atau 3 orang anak..

Yeah, saya memang tidak bisa bilang "1 tahun lagi ATAU 2 tahun lagi..."
Bukan karena saya tidak ada keinginan untuk memiliki mereka, semata-mata hanya karena saya terlalu mencintai mereka..

Tidak tega rasanya jika mereka lahir saat ini, saat dimana kedua orang tua nya masih membangun karir masing2,
Tidak tega rasanya jika mereka lahir saat ini, saat dimana kedua orang tua nya masih dalam taraf penyesuaian dan saling mendalami karakter satu sama lain,
Tidak tega rasanya jika mereka lahir saat ini, saat mama nya masih (begitu sering) mengeluh "capeeek!!", "panaaaaaaas!!", "stress banget dikantor", "ih rese banget deh dia", dll
Tidak tega rasanya jika mereka lahir saat ini, saat papanya masih terlihat struggling menyelesaikan study PhD nya..

Anak-anak ku sayang, dimanapun kalian berada sekarang..
Sabar ya nak, papa dan mama tengah mempersiapkan kehidupan yg luar biasa untuk kalian..
Love you so!!


P/s: Dearest Gung Aya, you inspire us with just the way you are..

Wednesday, January 7, 2009

Saat Semua Tak Lagi Sama


ku buka album biru penuh debu dan usang
ku pandangi semua gambar dirikecil bersih belum ternoda
pikirkupun melayang dahulu penuh kasih
teringat semua cerita orangtentang riwayatku

Tak sadar saya bersenandung lagu BUNDA, yaaah saya merindukan BUNDA - saya memanggil beliau mama.

Tak hanya mama, saya juga kangen setengah mati dengan papa dan kakak-kakak saya.

Teringat masa-masa kami dulu, bermain sepeda di halaman belakang, memanjat pohon mangga, berkumpul rame-rame di kamar papa mama sampai tertidur, atau sekedar mendengarkan petikan gitar kakak saya..

Pikiran saya smakin melayang jauh, teringat semua yang sudah saya lewati sebagai gadis kecil mereka.

Saya ingat betapa lucunya raut muka papa yg diam2 memberikan saya uang saku tambahan sambil bilang “jangan bilang2 mama ya!”, saya ingat mama yang selalu menunggu saya sepulang sekolah untuk bercerita tentang kejadian di sekolah. Beliau menyimak cerita saya, sesekali tersenyum dan mengusap-usap kepala saya.
Saya juga teringat kakak-kakak tersayang saya - Betapa menyenangkannya memiliki mereka…

Sedikit demi sedikit keadaan berubah, kami semakin dewasa, papa dan mama semakin menua.

Satu persatu kakak saya menikah, mereka memiliki keluarganya sendiri, dan saya tau mereka bahagia.

Papa mama juga berubah, senyumnya kini lebih mengembang kala melihat keponakan2 saya berlari kearah mereka, mereka tertawa, bahagia..,

Keadaan semakin berubah saat saya memutuskan untuk menikah.
Saya menikah dan pindah ke Singapore, meninggalkan mereka dan masa kecil saya.
Merasakan perubahan dari gadis kecil mereka menjadi wanita dewasa-nya..

Semua tak sama lagi, tidak ada lagi pelukan manja ke papa, tidak ada lagi telvon meminta uang jajan ke mama, tidak ada lagi rengekan minta di antar kesana kesini ke kakak-kakak saya.
Semua berganti pelukan sayang, jabatan tangan penuh hormat, dan telvon menanyakan kabar mereka.

Kisah ini diakhiri dengan sempurna, ketika saya melihat kearah suami saya..
Melihatnya membawakan belanjaan membuat saya seperti memiliki kakak saya, melihatnya memijit dan mengoleskan minyak kayu putih mengingatkan saya pada mama, melihatnya memanjakan dan mendukung saya seolah2 seperti ada papa disamping saya..

Semua memang tak sama lagi, tak apa-apa asal ada dia disisi saya.